BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Makalah ini akan membahas masalah yang ada pasca meletusnya gunung merapi yang terjadi 26 Oktober 2010. Tepatnya terjadi banjir lahar dingin di Sungai Boyong yang bermuara ke sungai Code. Akibat banjir lahar dingin tersebut banyak warga yang mengungsi dan engggan pulang ke tempat asal mereka dikarenakan gunung merapi masih aktif dan banjir lahar dingin kembali terjadi. Tetapi ada juga sebagian warga yang kembali ke tempat tinggal mereka hanya untuk mengolah lahan mereka yang digunakan sebagai mata pencaharian sehari-hari dan juga dikarenakam beralasan bosan berada di pengungsian. Dan dengan demikian makalah ini disusun agar kita bias mengetahui seberapa jauh kita mengetahui permasalahan ini dan cara mengatasi masalah ini, walaupun tidak sepenuhnya kita dapat menangani sendiri.
1.2. Rumusan Masalah
1.2. Rumusan Masalah
1. Masalah-masalah pasca meletusnya Gunung Merapi.
2. Bagaimana mengatasi masalah pasca meletusnya Gunung Merapi?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Kita dapat mengetahui masalah pasca meletusnya Gunung Berapi.
2. Untuk mengetahui cara penanganan masalah pasca meletusnya Gunung Berapi.
BAB II
PEMBAHASAN AWAL
BAB II
PEMBAHASAN AWAL
2.1. Masalah Pasca Meletusnya Gunung Merapi
Pasca meletusnya Gunung Merapi yang terjadi 26 Oktober 2010, banjir lahar dingin mulai menghantui warga Kota Yogyakarta. Jumat (5/11) sekitar pukul 13.00 WIB, Sungai Code yang membelah jantung Kota Yogyakarta mulai kebanjiran lahar dingin. Aliran lumpur berwarna coklat yang menyebarkan aroma belerang perlahan tapi pasti terus meninggi. Lahar dingin merupakan aliran sedimen pekat yang teridiri atas batu, kerikil, pasir serta abu vulkanik yang tercampur air.
Banjir lahar dingin dengan skala besar terjadi di Kabupaten Magelang pada 7 November 2010, tepatnya di Kali Putih dan Kali Pabelan yang bersumber dari Kali Senowo. Akibatnya, sebuah rumah milik warga Pabelan Kecamatan Mungkid nyaris ambrol setelah pondasinya tergerus banjir. Salah seorang pemilik rumah tersebut, memilih mengungsi ke Semarang paska-luapan banjir lahar dingin kali pertama. Hal serupa juga dialami oleh warga sekitar, sedikitnya ada lima rumah yang berdekatan dengan jalan utama Magelang-Jogjakarta yang nyaris amblas. Banjir lahar dingin kali ini menjadi yang terbesar selama erupsi Merapi. Batu-batuan besar beserta pepohonan terlihat hanyut terbawa arus deras di kali.
Sementara itu, ancaman banjir lahar dingin membuat 3000 warga Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, mengungsi ke Desa Banjarroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo akibat takut ancaman banjir lahar Gunung Merapi. Meskipun jarak Kecamatan Ngluwar dengan Gunung Merapi sekitar 35 km. Mereka yang mengungsi rata-rata warga yang tinggal di sekitar alur Kali Putih dan Kali Krasak. Mereka mengungsi sejak tanggal 4 November tepatnya hari Kamis.
Hujan dengan intensitas tinggi di atas gunung memicu luncuran banjir lahar dingin yang cukup besar. Banjir lahar dingin ini terjadi di Sungai code yang akibatnya, Kota Yogyakarta seperti terbelah, Yogya Barat dan Yogya Timur. Yang ditutup itu antara lain Jembatan Gemawang menghubungkan Dusun Pogung Lor, Kecamatan Depok, dengan Kecamatan Mlati, Jembatan Wreksodiningrat menghubungkan UGM dengan Jalan Monjali, Jembatan Sardjito menghubungkan UGM selatan dengan Jetis, dan sejumlah jembatan lainnya di Kota Yogyakarta. Bagian atas Sungai Code disebut Sungai Boyong yang berhulu di kawasan puncak Gunung Merapi. Banjir besar yang melanda kali ini merupakan yang kedua kalinya dalam dua hari terakhir. Salah satu pemantau sungai pada Sub Dinas Pengairan Provinsi DIY Sutrisno mengatakan, banjir Sungai Code ini dilaporkan mulai terjadi pada (29/11) pukul 17.15 WIB. Pada saat ini debit air memang berada diambang batas normal, Aliran air yang membawa material vulkanik ini langsung menerjang bantaran sungai ini.
Keadaan sungai Code saat ini (30 November 2010) debit air sudah dibawah batas evakuasi, dan warga diminta untuk tetap berada tidak kurang dari 300 meter dari pinggiran sungai. Dengan dibantu alat berat untuk mengeruk material vulkanik yang menyebabkan pengendapan di Sungai untuk mengantisipasi akan datangnya banjir seperti ini. Banjir lahar dingin dari Gunung Merapi belakangan ini sangat meresahkan masyarakat terutama mereka yang tinggal di sepanjang pinggiran Sungai Batang. Akibat lahar dingin tersebut, tujuh rumah warga terancam longsor dan satu rumah lainnya rusak parah.
2.2. Pengaruh terhadap masyarakat
2.2. Pengaruh terhadap masyarakat
Sejak terjadi letusan Gunung Merapi tanggal 26 Oktober 2010 lalu, banyak pengaruh yang terjadi di daerah masyarakat Yogyakarta. Akibat banjir lahar dingin di sungai Code banyak rumah warga rusak parah, dan menyebabkan Sungai Code ini menjadi dangkal akibat material vulkanik yang berasal sari letusan gunung tersebut. Akibat letusan gunung merapi tersebut berdampak pada perkebunan atau sawah milik warga sekitar. Pertumbuhan terhambat karena terhalang oleh material vulkanik yang ada disekitar persawahan.
Banyak warga yang terserang penyakit ISPA(Infeksi Saluran Pernapasan Akut) ini dikarenakan adanya hujan abu vulkanik yang disumberkan dari Gunung Merapi tersebut. Dampak lebih lanjut dapat menyebabkan kerusakan paru-paru yang menghirup debu vulkanik. Bagi pengidap asma dan penyakit pernafasan kronis lainnya seperti emphysema atau bronkhitis lebih rentan terkena iritasi jika debu vulkanik memenuhi udara dengan kosentrasi tinggi. Sebagai tindak lanjut menjaga kesehatan bagi masyarakat Wonosobo, Maka bupati Wonosobo telah menginstruksikan, agar sekolah-sekolah yang berada di wilayah kabupaten Wonosobo diliburkan. Hal ini untuk tindakan preventif masyarakat, karena pihak sekolah tidak mau mengambil resiko yang membahayakan bagi siswa-siswinya di kemudian hari. Dampak kesehatan yang terjadi di luar kesehatan pernapasan atau paru, di antaranya iritasi pada mata, seperti mata berair hingga kebutaan. Kulit pun menjadi bagian yang terkena dampak akan bahaya vulkanik, di antaranya iritasi berupa gatal-gatal, bisa membuat erosi, bahkan kulit bisa terbakar karena abu vulkanik.
2.3. Cara mengatasi masalah
2.3. Cara mengatasi masalah
Persiapan masker jika adanya hujan abu vulkanik, dan hindari paparan debu vulkanik dan pergi jauh dari sumber abu vulkanik. Hendaknya masyarakat sekitar yang terpapar abu vulkanik untuk terus memproteksi diri dari bahaya, seperti menggunakan masker yang aman. Pilih masker respirator yang bisa menyaring partikel-partikel kecil agar debu tidak bisa masuk dari samping. Masker biasa tipis sehingga tidak bisa memproteksi 100 persen. Walaupun begitu, masker tetap direkomendasikan sebagai alat pelindung diri.
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari semua data yang ada dalam makalah ini kesimpulannya yaitu akibat dari bencana letusan Gunung Merapi dan banjir lahar dingin yang terjadi dari hulu sungai boyong ke sungai code menyebabkan banyaknya mengalami kerugian dan banyak warga yang terserang penyakit ISPA, dan banyak hasil tani yang gagal akibat material letusan gunung merapi.
No comments:
Post a Comment